You are here: Home > The Story > Karena Mencintai Berarti Menerima Apa Adanya….

Karena Mencintai Berarti Menerima Apa Adanya….

Katanya cinta itu bukan untuk menemukan seseorang yang sempurna, melainkan untuk menemukan seseorang yang akan membuatmu menjadi sempurna, tapi tetap saja aku selalu mencari kesempurnaan itu di dalam sosok orang yang tengah menjalani hubungan denganku saat ini. Entah kenapa aku selalu merasa kalau ada yang kurang dari dirinya, tentu saja bukan kurang di dalam fisik karena toh aku bukan jatuh cinta pada fisiknya, melainkan pada tatapan matanya dan tentu saja senyumannya.
Hubunganku dengan dia sejauh ini masih baik-baik saja karena toh kami betah bersama selama tiga tahun belakangan dengan konflik yang bisa dihitung dengan jari dan selalu dapat diselesaikan sebelum hari berganti. Meskipun begitu, entah kenapa belakangan ini aku tak dapat memungkiri kalau semakin hari aku semakin merasakan rasa itu pergi meninggalkanku. Rasa yang selama ini mengikat kami berdua.
Rasa yang selalu kusebut sebagai cinta.
Dan kini, saat kilauan kilat itu kembali menyapa hari-hariku, entah kenapa aku merasakan kebimbangan itu. Di satu sisi aku tentu saja tidak mungkin mengkhianati komitmen yang telah kubangun bersama bintangku, namun di sisi lain perhatian dan kelembutan sang kilat membuat cahaya bintangku yang memang kurasakan kurang memperhatikanku semakin pudar ditelan kegelapan malam.

Aku tahu bintangku bermaksud baik dengan memberikanku ruang untuk bergerak dan bernapas agar aku bisa tetap menjadi diriku sendiri saat bersamanya, tapi entah kenapa aku justru merasa terlalu bebas dan seolah-olah aku bisa berlari menjauh dari pelukannya.
Yeah, mungkin aku memang makhluk yang tidak tahu diuntung, tapi aku tidak bisa memungkiri kalau pikiran untuk berlari menjauh dari sisinya berulang kali muncul belakangan ini.
Bahkan detik ini pun, mungkin aku mulai telah menjauh dari sisinya karena toh belakangan aku selalu menyibukkan diriku dengan menemui orang-orang lain tanpa sekalipun mencoba mencarinya. Yah, tampaknya dia pun tidak ambil pusing dengan semuanya itu. Seperti biasanya dia mempercayakan segala sesuatunya pada diriku.
Aku pun tersentak kaget sejenak saat kurasakan ponselku berdering, membuatku nyaris meloncat dari tempatku duduk sekarang ini.  Dan seperti yang sudah dapat kuduga sebelumnya, itu bintangku. Yah, tampaknya dia selalu muncul saat aku tengah memikirkan mau dibawa kemana kelak hubungan kami ini seolah dia ingin memastikan kalau dirinya masih ada di dalam hidup dan hatiku. Dan itu berarti nyaris satu kali setahun atau beberapa minggu sekali belakangan ini. Kali ini entah kenapa aku malas menjawabnya.
“Ya?” tanyaku setengah enggan. “Ada apa?”
“Hmmmm…” ujarnya pelan. “Apa aku tidak boleh menelepon pacarku sendiri?”
“Boleh sih,” ujarku. “Tapi tumben aja.”
“Kenapa kamu berbicara dengan nada seperti itu?” tanyanya setengah kebingungan. “Sedang kesal?”
“Hmmmm..” ujarku acuh. “Tidak juga.”
“Kenapa?”
“Kenapa?” tanyaku mengulangi pertanyaannya.
Karena aku merasa kamu tidak memperhatikanku. Karena aku merasa kamu tidak mencintaiku. Karena aku merasa kamu tidak mempedulikanku. Karena belakangan ini entah kenapa aku selalu ingin memikirkan kembali kelanjutan hubungan kita yang makin berasa semakin hambar.
“Tidak ada apa-apa,” ujarku kemudian.
“Tapi suaramu tidak terdengar seperti tidak ada apa-apa.” Aku tahu mungkin saja ia sudah curiga dengan semuanya. Curiga bahwa aku sudah mengambil ancang-ancang untuk meninjau ulang hubungan kami yang mungkin saja bisa berakhir dengan kata berpisah. “Kamu marah padaku?”
“Aku benar-benar tidak apa-apa,” ujarku berusaha untuk meyakinkannya walau aku tahu aku memang ada apa-apa. Memang ada sesuatu di dalam pikiranku.
“Nanti kutelepon lagi,” ujarku kemudian menutup sambungan telepon tanpa menunggu respon apapun darinya. Yah, setidaknya aku tahu kalau ia hanya akan mengucapkan sebuah kata.
OKE.
Kuhembuskan napasku kemudian kupejamkan mataku.
Aku muak dengan responnya yang seolah pasrah dan melepasku begitu saja. Tidakkah ia pernah berpikir kalau aku bisa berlari menjauh dari sisinya karena sikapnya itu? Tidakkah ia pernah tahu kalau aku ingin sedikit saja merasa dibutuhkan olehnya? Tidakkah ia pernah memahami hatiku sedikit saja?
Yah, mungkin saja ia tidak pernah tahu.
Oh Tuhan, bisakah aku menjaga perasaanku hanya untuknya? Sementara aku sudah mulai merasa kehilangan rasa itu untuknya?
Sayangku, pegangi aku. Jangan biarkan aku berlari ke pelukan lelaki lain.
“Aku kira kita perlu berbicara,” ujarnya seolah mendengar teriakan dalam hatiku barusan.
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku ada di sini?” tanyaku setengah terkejut.
Yah, mungkin seharusnya aku tidak perlu merasa terkejut seperti itu karena toh dia suka muncul tiba-tiba di hadapanku tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Persis seperti bintang yang muncul dan menghilang di tengah gelapnya langit malam.
“Kamu marah padaku belakangan ini?” tanyanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?” tanyaku berusaha mengubah topik pembicaraan kami.
“Apa aku membuatmu marah atau belakangan ini?” tanyanya seolah tidak mendengarkan pertanyaanku barusan.
Kuhembuskan napasku keras-keras. Yah. Mungkin akan lebih baik jika aku tidak berpura-pura lebih lama lagi. Mungkin inilah saatnya bagiku untuk memberitahukan padanya semua kegundahan yang ada di dalam hati dan pikiranku.
“Oke,” ujarku pelan. “Aku mau bertanya sesuatu padamu.”
“Katakan,” ujarnya pelan namun tegas.
“Apa kamu merasa kalau belakangan ini aku terlihat bertingkah aneh?”
“Iya,” ujarnya. “Karena itu sekarang kurasa kita perlu membicarakan semuanya ini.”
“Oke,” ujarku lagi. “Aku memang bertingkah aneh, bukan hanya terlihat bertingkah aneh. Dan kau tahu apa sebabnya?”
“Tidak,” ujarnya pelan.
“Baiklah,” ujarku kemudian menghembuskan napasku keras-keras. “Aku lelah.”
“Lagi?” tanyanya setengah bingung setengah terkejut.
“Ya.” Kuhembuskan napasku lagi. “Aku lelah lagi. Dan aku rasa aku ingin meninjau ulang kebersamaan kita selama tiga tahun belakangan ini.”
“Kenapa?” tanyanya kebingungan. “Apa yang membuatmu ingin melakukan hal itu?”
“Kamu.”
“Aku?” tanyanya semakin kebingungan. “Kenapa?”
“Aku lelah,” ujarku pelan. “Tidakkah kamu tahu kalau sikapmu itu bisa membuatku berlari ke pelukan pria lain?”
“Memang apa sikapku?” tanyanya lagi masih dengan ekspresi muka yang benar-benar kebingungan.
“Entahlah,” ujarku pelan. “Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi aku merasa kamu tidak pernah peduli akan diriku.”
“Hah? Aku—”
“Biarkan aku menyelesaikan ucapanku terlebih dahulu,” potongku cepat. Dan ia pun berhenti berkata-kata.
“Kamu tidak pernah mencariku selain di kampus.” Kupejamkan mataku, membiarkan perasaanku yang melankolis menuntun mulutku untuk mengeluarkan semua kata-kata yang selama ini terpendam. “Kamu tidak pernah meneleponku jika kamu tidak ingin bertemu denganku. Kamu juga tidak pernah mengirimiku SMS. Dan kamu sangat jarang membalas SMSku.”
Ia terdiam. Dan aku tahu kalau dia merasa perkataanku sedikit banyak ada benarnya.
“Aku merasa kamu tidak mempedulikanku.” Kuhembuskan napasku keras-keras. “Dan aku lelah dengan semuanya ini.”
“Kamu mungkin memang benar,” ujarnya kemudian menggenggam kedua tanganku erat-erat. “Aku tidak pernah mencarimu selain di kampus. Aku tidak pernah meneleponmu jika aku tidak ingin bertemu denganku. Aku tidak pernah mengirimimu SMS, dan aku bahkan tidak pernah membalas SMSmu, tapi itu bukan berarti aku tidak mempedulikanmu.”
“Aku tak bisa menghindari perasaan tidak dipedulikan dan tidak dibutuhkan itu karena aku memang merasa seperti itu belakangan ini,” ujarku pelan sambil menatap matanya dalam-dalam.
“Aku peduli padamu,” ujarnya dengan tatapan mata yang seolah berusaha untuk meyakinkanku. “Dan aku sangat-sangat membutuhkanmu. Hidupku takkan pernah sama tanpa dirimu.”
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku hanya tidak ingin kamu lari dari sisiku karena aku terus-menerus memonitor langkahmu.”
“Aku tahu kamu memiliki jiwa yang bebas dan suka bertualang kesana-kemari,” ujarnya lagi. “Dan aku tak ingin kamu kehilangan dirimu sendiri saat bersamaku.”
“Tidakkah kamu pernah berpikir kalau aku bisa saja berlari ke pelukan lelaki lain karena sikapmu yang terlalu membiarkanku bebas bergerak?” tanyaku setengah kesal setengah kecewa. “Tidakkah kamu pernah berpikir kalau aku juga ingin diatur dan dibatasi?”
Ia terdiam lagi seperti yang sudah dapat kuduga sebelumnya.
“Aku lelah,” ujarku setengah berteriak. “Aku muak dengan semuanya ini.”
“Bukankah aku pernah berkata padamu kalau kamu bisa beristirahat selama yang kau inginkan di dalam pelukanku?” tanyanya kemudian meraihku ke dalam pelukannya.
Dan entah kenapa aku tak bisa mengontrol emosiku saat merasakan hangatnya pelukan bintangku itu. Aku pun menangis di dalam pelukannya.
“Aku memang mungkin bukan kekasih yang sempurna yang selalu kau idam-idamkan,” ujarnya kemudian meletakkan dagunya di atas kepalaku. “Tapi aku selalu berusaha untuk menciptakan suasana nyaman untukmu di sisiku. Aku ingin kamu selalu tersenyum bahagia saat bersamaku.”
Yah, lagi-lagi dia benar.
Mungkin aku saja yang selalu mencari seseorang yang sempurna hingga aku selalu merasakan ada yang kurang atau hilang dari dirinya padahal yang kubutuhkan hanyalah dia. Kekasihku yang membuat hidupku sempurna karena aku bersamanya. Bintangku yang senantiasa menerangi langkahku dan menghangatkan duniaku dengan senyuman dan kebaikannya.
“Sekarang,” ujarnya lagi. “Kalau kamu masih tetap ingin mencari sosok yang sempurna buatmu, aku akan melepaskanmu pergi.”
“Buat apa aku mencarinya?” tanyaku pelan kemudian tersenyum ke arahnya. “Bukankah aku sudah memiliki dirimu.”
Ia pun tersenyum kemudian mengecup keningku perlahan.
Ya,  kini aku pun paham kalau ternyata cinta itu memang bukan untuk menemukan seseorang yang sempurna, melainkan untuk menemukan seseorang yang akan membuatmu menjadi sempurna.
Terimakasih bintangku. Terimakasih telah mengajarkan hal itu padaku.


Tags: , ,

  • RSS
  • FB
  • Twitter
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit

11 Responses to “Karena Mencintai Berarti Menerima Apa Adanya….”

  1. ARiA-D says:

    bah, ada kata2 dari soal ujian praktek gw T_T

  2. BwC says:

    ga menyinggung soal ??
    *kecewa*

  3. 4rch4n93L says:

    @ARiA-D:
    iya dunkzzz… kata2 itu menginspirasi g..

    @Yosu:
    Hmmm… ga semua yg u baca itu bener, tp ga semua yg u baca itu juga kaga bener…
    **apa coba??**

    @BwC:
    yah uda keburu di publish soalnya.. next time deh

  4. Yosu says:

    Ooh.
    Jadi semacam : Oke, that was all a lie. Not entirely though. Pake kejeniusan lu buat liat mana yang bener dan mana yang nggak. (quoted from my blog)

  5. 4rch4n93L says:

    @Yosu:
    yeah.. a hundred point for u

  6. Blue not boy anymore says:

    menerima apa adanya bukan menerima ada apanya
    apa yang terjadi bila sang cwo melakukan apa yang kau lakukan?
    itu yang menjadi pertanyaan balik
    jangan bilang sama selingkuh

  7. phy says:

    kok gw banged iagh..hehehe…keren bisa ngerangkai kata sebagus itu…

  8. di2c says:

    ebuseeeeeeeeettttttttt…. nyindir gw bgt….

Or....

Just Leave Your Comment Here

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: