Long Journey to Find The Brightest Star

And I Found it nearly at the end of October… ^0^v

“Semuanya sudah berakhir.” Kalimat itu kuucapkan pada diriku sendiri berulang kali.

“Dan harusnya aku merasa sangat-sangat lega karena telah terbebas dari sebuah ikatan yang membuatku kehilangan diriku sendiri di dalamnya.” Sengaja kutambahkan kalimat itu saat ada suatu sensasi nyeri bercampur perih di dadaku seolah seseorang telah menorehkan pisau di dalam sana.

Kuhembuskan napasku berkali-kali, mencoba untuk menghilangkan rasa sesak yang kini terasa semakin memenuhi rongga dadaku, tapi hasilnya nihil. Rasa sesak itu makin menjadi dan entah kenapa aku merasa sangat-sangat rapuh hingga akhirnya air mataku pun menetes tanpa sepengetahuan ego di dalam diriku. Egoku tentu saja akan melarang hal itu, namun toh tetap saja air mata itu menetes dan justru semakin deras mengalir saat rasa perih di dadaku itu semakin menjadi.

Yah, mungkin ada baiknya kalau aku membiarkan diriku menangis sesaat. Setidaknya aku bisa mengusir rasa perih dan sesak itu dari dalam dadaku.

Tuhanku, aku bahkan tak yakin telah melakukan hal yang benar!

Dan ia pun hanya bisa terdiam terpaku disana tanpa mencegahku sedikitpun.

Ya. Dia memang selalu seperti itu. Diam dan menyetujui semua tindakanku seolah ia tidak peduli padaku. Seolah dia hanyalah teman baikku. Hal itu lah yang paling menyakitkan buatku. Hal itu lah yang membuatku tidak bisa mempertahankan jembatan penghubung diantara dunia kami berdua lebih lama lagi.

Mungkin aku memang terlalu bodoh dengan langsung menghancurkan jembatan yang mengubungkan dunia kami berdua yang terasa sangat-sangat berbeda begitu saja, tapi aku merasa terlalu lelah untuk memperkokoh jembatan itu. Aku sangat-sangat lelah berjalan di sisinya hingga terkadang aku berpikir alangkah bahagianya aku jika aku bisa menjalani semuanya ini sendirian saja.

Namun saat ini, ketika aku telah mendapatkan kebebasanku kembali, sesuatu yang seharusnya kuidam-idamkan sejak lama, entah kenapa aku merasa hampa seolah seseorang telah mendorongku ke sudut terjauh dan tergelap dari dunia ini.

Dan aku pastinya sangat-sangat bodoh dengan membiarkan diriku sendiri tertidur di sisi tempat tidurku karena terlalu lelah menangis tanpa henti. Ya. Mulai detik ini aku akan hidup tanpa kehangatan pancaran sinar bintang itu lagi. Kini, bintang itu pun menghilang ditelan gelapnya malam.

Bintangku, masihkah ada diriku di dalam relung hatimu?

No Comments :(

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: