You are here: Home > The Story > Ilumistar, still..

Ilumistar, still..

Harusnya aku tersenyum bahagia saat namaku disebutkan diantara ribuan orang yang hadir di acara wisuda kami semua saat ini. Harusnya aku merasa puas karena akhirnya perjuanganku selama tiga setengah tahun berakhir dengan hasil yang benar-benar membuat kedua orang tuaku bangga karena toh akhirnya aku berhasil masuk diantara jajaran orang-orang yang mendapat hasil cumlaude di acara wisuda kami saat ini. Harusnya aku tersenyum bahagia karena kami berdua berhasil berdiri bersama-sama diatas panggung ini untuk menerima penghargaan di acara wisuda kami semua saat ini. Harusnya aku tersenyum bahagia karena akhirnya kami berdua bisa meraih mimpi kami, lulus dengan nilai cumlaude. Tapi nyatanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya bahkan berteriak sekeras-kerasnya saat ia menyalami tanganku dengan erat sambil memandangiku dengan tatapan mata terluka.

Ya. Kami berdua sudah tentu tahu kalau mungkin ini adalah saat terakhir dimana kami bisa saling bertemu dan berada sedekat ini.

Aku benci akan adanya perpisahan walau kata orang harus ada perpisahan jika ingin ada sebuah pertemuan yang lain lagi.

“Selamat yah,” ujarnya kemudian mencoba tersenyum.

“Sama-sama.” Aku tersenyum padanya. Memaksakan diriku mengeluarkan sebuah senyuman termanis yang bisa kulakukan di tengah suasana hatiku yang terasa hancur berantakan.

Aku ingin memeluknya, menangis di dalam pelukannya, membuat kami berdua bisa kembali ke keadaan sebelum aku dengan bodohnya mengakhiri semuanya saat itu. Namun egoku melarangku melakukan hal itu. Dan akal sehatku jelas-jelas berteriak kalau itu adalah hal yang mustahil.

Ya. Yang dapat kulakukan hanyalah melanjutkan hidupku tanpanya seperti yang telah kulakukan selama hampir setengah tahun belakangan meski aku tidak tahu apakah aku akan sanggup melakukan hal itu lebih lama lagi. Kemudian aku pun melepaskan tanganku dari genggamannya dan menyambut uluran tangan teman-temanku yang lainnya yang berebutan ingin mengucapkan selamat kepadaku dan juga kepada dia. Lagi-lagi aku melepaskan kesempatan untuk meraihnya lagi karena toh ia menghilang saat aku selesai bersalaman dengan teman-temanku dan kembali menoleh ke arahnya.

”Ayo kita pulang, Nak.” Kudengar ayahku memanggilku. Memanggilku untuk selamanya pergi meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan ini. Dan tentu saja aku mengikuti penggilannya. Yah. Mungkin saja setelah saat ini aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.

Ada satu bagian dari diriku yang selalu merasa tidak rela kalau aku dan dia harus berakhir seperti ini dan kini satu bagian dari diriku itu memberontak hebat dan memaksaku untuk mengakui kalau aku merindukannya dan aku ingin sekali bisa berlari ke dalam pelukannya.

”Ada sesuatu yang harus kuurus dulu, Pa,” ujarku pada ayahku yang tampaknya keheranan karena tiba-tiba aku menolak untuk kembali ke kota kelahiranku setelah acara wisudaku selesai.

”Aku akan segera kembali,” ujarku lagi sebelum ayahku bertanya lebih lanjut lagi.

Ya! Bagian itu menang. Dan kini aku akan berlari ke arahnya. Mencoba melakukan apapun agar aku bisa kembali ada di sisinya.

Bintangku, masih bisakah aku kembali merasakan hangatnya pelukanmu?

Ilumistar.. Still…

Tags: , ,

  • RSS
  • FB
  • Twitter
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit

Or....

Just Leave Your Comment Here

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: