You are here: Home > The Story > Harusnya aku lebih bahagia tanpa dirinya..

Harusnya aku lebih bahagia tanpa dirinya..

Ibuku pernah menasihatiku seperti ini.

“Nak, jika suatu hari nanti kamu harus memilih diantara dua cinta, pilihlah seseorang yang mencintaimu bukan seseorang yang kaucintai karena orang yang kaucintai hanya akan membuatmu meneteskan air mata, sementara orang yang mencintaimu akan selalu membuatmu bahagia. Karena pada dasarnya cinta bisa tumbuh seiring dengan berjalannya sang waktu.”

Dulu aku tidak pernah mendengarkan nasihat ibuku dan selalu memilih orang yang kucintai dengan sepenuh hati.

Bintangku.

Seorang lelaki yang sangat kucintai tapi akhirnya menyakitiku dengan begitu dalam. Seorang laki-laki yang mencintai perempuan lain walau ia selalu menyangkalnya hampir tiap waktu.

Tapi akhirnya aku pun menyerah kalah dan mulai mengikuti nasihat dari ibuku.

Kini, aku telah hidup tanpa dirinya selama hampir tiga tahun lamanya.

Kalau dulu aku adalah seorang perempuan yang jatuh cinta setengah mati pada bintangnya, sekarang aku adalah seorang perempuan yang takut untuk merasakan cinta itu lagi setelah semua yang telah terjadi.

Kalau dulu aku adalah seorang perempuan yang memuja cintanya, sekarang aku tak lebih dari sekadar perempuan yang berusaha hidup dengan bahagia tanpa sebuah kata yang bernama cinta lagi walau kini telah ada seseorang yang jelas-jelas telah mengikatku dengan cincin pertunangannya.

Kupandangi cincin pertunangan kami yang melingkar di jari manisku. Aku yakin dia sangat mencintaku walau ia jarang mengucapkan kata-kata cinta itu kepadaku, tapi aku tak yakin kalau aku mencintainya sedikitpun.

Ironis bukan?

Ia selalu memperhatikanku, mencintaku, berada di sisiku setiap saat, mengabulkan tiap-tiap permintaanku seperti seorang peri dari negeri dongeng, dan selalu memperlakukanku bagai seorang ratu, namun sikapku padanya mungkin tak lebih dari sekadar aku memperhatikan sahabatku. Dan parahnya aku masih selalu merindukan bintangku walau kini sudah ada seseorang yang harusnya bisa menghangatkan duniaku dengan caranya sendiri yang jelas-jelas berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh bintangku.

Dan kini aku kelabakan saat ia mengatakan kalau ia ingin segera menikah denganku agar ia bisa memiliku sebagai istri yang dicintainya.

“Kenapa?” Walau aku memunggunginya saat ini, aku yakin kalau ia tengah kebingungan pada perubahan sikapku yang begitu mendadak.

Aku pun berbalik perlahan, walau aku yakin kalau aku takkan pernah sanggup menatap matanya lagi. Tidak setelah semua kebohongan yang telah kukatakan padanya selama kami bersama-sama.

“Harusnya aku yang menanyakan hal itu,” ujarku pelan.

“Kamu tidak menyukai ideku itu?” tanyanya setengah kebingungan dengan perlahan.

“Bukannya tidak suka,” ujarku sambil memandangi lantai keramik tempatku berpijak.

“Tapi?” tanyanya seolah dapat membaca pikiranku saat ini.

“Tapi tidakkah kamu merasa kalau semua ini terlalu cepat?” Kuhembuskan napasku keras-keras seolah ingin mengusir pergi rasa sesak itu dari dalam dadaku jauh-jauh.

“Dengarkan aku, tuan putriku tersayang,” ujarnya sambil menghampiriku yang ternyata telah berada cukup jauh darinya hanya dalam hitungan detik saja. “Aku tahu kamu masih memiliki jutaan cita-cita yang ingin kau capai.”

“Tapi aku telah bersabar dan berusaha menunggu terlalu lama untuk bisa sampai ke titik ini,” ujarnya lagi. Kali ini ia mengarahkan wajahku untuk menatap kedua matanya yang memancarkan sinar penuh keyakinan sambil menggenggam kedua tanganku erat-erat.

“Dan aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.”

“Aku tahu,” ujarku kemudian menundukkan kepalaku perlahan.

Sebuah tindakan yang kemudian kusadari sebagai suatu kesalahan besar karena ternyata mataku justru langsung terarah pada sebentuk cincin yang telah tersemat di jariku kira-kira sejak setahun yang lalu.

Kuhembuskan napasku perlahan kemudian kutengadahkan wajahku kembali menatap kedua matanya.

“Tapi aku tak yakin kalau semua itu akan berhasil.”

“Apa maksudmu?” tanyanya setengah terkejut, setengah kebingungan.

“Beri aku waktu,” ujarku pelan sambil menghembuskan napasku keras-keras. “Beri aku waktu untuk memikirkan kembali semuanya ini agar tak ada dari kita berdua yang merasa terluka.”

“Aku tak pernah ingin menyakiti hatimu,” ujarku sungguh-sungguh. “Membuatmu terluka adalah hal terakhir yang akan kulakukan di dalam hidupku.”

“Aku masih tak mengerti.” Dari wajahnya aku dapat menangkap sinar kebingungan itu.

“Pernikahan bukanlah hal yang sederhana,” ujarku dengan nada serius. “Dibutuhkan komitmen dan kesetiaan yang berlangsung sampai akhir hayat kita agar semuanya bisa berjalan dengan sebagaimana mestinya.”

Kuhembuskan napasku perlahan.

“Aku tahu kamu pasti bersedia melakukan komitmen itu dan juga menjaga kesetiaan itu sampai akhir hayatmu,” ujarku perlahan. “Tapi aku hanya merasa belum siap dengan komitmen itu dan aku butuh banyak waktu untuk memikirkan semuanya itu dan kuharap kamu bisa memahamiku sekali ini saja.”

“Aku butuh waktu,” ujarku sambil menatap matanya dalam-dalam.

Ia menghembuskan napasnya perlahan, dan entah kenapa aku merasa dia telah menangkap maksud dari ucapanku barusan.

Aku pun menghembuskan napasku perlahan, berharap dan berdoa semoga apa yang kukatakan itu benar.

Semoga yang kubutuhkan hanyalah lebih banyak waktu untuk menghadapi semua keraguan di dalam hatiku. karena toh harusnya aku lebih bahagia tanpa dirinya.

Yah. Semoga saja.

Semoga saja aku bisa melupakan bintangku yang lama dan mencintai bintangku yang baru sementara hatiku selalu meneriakkan hal yang sama.

ilumistar…..

Tags: , ,

  • RSS
  • FB
  • Twitter
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit

Or....

Just Leave Your Comment Here

:alien: :angel: :angry: :-l :blink: :blush: :cheerful: :cool: :cry: :devil: :dizzy: :ermm: :face: :getlost: :D :happy: :heart: :kissing: :lol: :ninja: :pinch: :| :( :shocked: :sick: :sideways: :silly: :sleeping: :) :p :unsure: :w00t: :wassat: :whistle: ;) :x :bat: :beer: :cake: :camera: :cat: :clock: :cocktail: :cup: :dog: :email: :film: :kiss: :lightbulb: :note: :phone: :present: :rose: :star: :tup: :tdown: :wiltedrose: :unlove: