Aku bisa merasakannya.
Jantungku tiba-tiba saja berdetak dengan kencang tanpa alasan jelas. Darahku pun berdesir cepat di kepalaku yang dipenuhi dengan sebuah pemikiran yang bisa dikatakan cenderung gila dan tidak masuk diakal kalau dia pastilah ada di dekatku saat ini.
Aku merasa bintangku ada di dekatku.
Tidak.
Itu tentu saja tidak mungkin.
Kupejamkan mataku dan rasa itu seolah semakin nyata. Aku merasa kalau aku seolah bisa merasakan dia sungguh ada di dekatku saat ini!
Dan tubuhku pun langsung berputar mengikuti perintah otak alam bawah sadarku. Kuhembuskan napasku keras-keras seolah bersiap menerima kenyataan kalau hal itu pastilah hanya imajinasiku belaka. Namun, ia ternyata sungguh ada dan nyata!
Aku tak dapat mempercayai apa yang tengah ditangkap oleh retina mataku dan dipantulkannya ke dalam otakku saat ini.
Aku melihatnya.
Dia begitu nyata dan berjarak hanya beberapa langkah dariku. Diantara beberapa orang yang berlalu-lalang diantara kami berdua, dibatasi dengan dinding kaca toko tempatku berada saat ini.
Aku pun menuruti perintah otakku yang berteriak memerintahku untuk segera mengejar dia tanpa mempedulikan hal yang lainnya lagi. Jantungku berpacu cepat, adrenalinku pun bergolak hebat di dalam pembuluh darahku. Aku ingin sekali berlari keluar dari tempat ini, meneriakkan namanya keras-keras agar dia mengetahui keberadaanku, dan menghentikan langkahnya yang seperti biasanya sangat cepat dan tak terkejar.
Namun, sebuah pemikiran hinggap di kepalaku. Sebuah suara lain yang tiba-tiba berbisik di telingaku. Bisikan yang mempertanyakan secara tegas apakah dia sungguh nyata dan bukan hanya sebuah fatamorgana yang tercipta karena aku begitu menginginkan sosoknya nyata di hadapanku saat ini. Bisikan yang akhirnya membuat konsentrasiku terpecah belah dan membuatku kehilangan sosoknya yang menghilang di kejauhan secepat ia muncul barusan. Sosoknya hilang diantara kerumunan orang yang masih sibuk berlalu-lalang.
Dan aku masih terjebak di dalam sini.
Mengepas gaun pengantinku.
Kuhembuskan napasku keras-keras. Mungkin saja sosoknya tadi hanya interpretasi dari otakku yang terlalu menginginkan keberadaannya saat ini. Dia hanyalah sebuah fatamorgana di dalam benakku saja.
Mungkin saja.
Karena rasanya sungguh tidak masuk akal kalau dia bisa berada di sini saat ini. Aku pun tak bisa menemukan alasan yang cukup masuk diakal untuk menjelaskan kenapa ia bisa sampai ada di sini saat ini.
Aku tersenyum getir pada diriku sendiri.
Bahkan tak tahu apakah dia masih ada di kota ini saat ini.
Kupejamkan mataku dan entah kenapa aku ingin ia bisa merasakan keberadaanku saat ini jika memang sosok yang tadi ditangkap oleh kedua mataku adalah dia.
Oh, Tuhan… Aku ternyata masih sangat-sangat mencintainya…
And at this time, ilumistar still…




HIMTI e-Forum






keren mba…….
makasih