Ada beberapa pikiran yang tiba-tiba muncul di dalam benakku sebagai bentuk pengamatan mataku terhadap keadaan sekelilingku, baik yang kualami sendiri maupun dari yang kudengar dari cerita orang-orang, termasuk juga sebagai hasil dari perputaran waktu yang ternyata ingin menunjukkan sesuatu pada diriku…
Pemikiran-pemikiran yang agaknya bakalan selalu aku pikirin sampe semuanya itu clear, menurut versiku tentu saja…
Ga tau napa, agaknya aku ga bisa mempertanyakan semuanya itu… setidaknya tidak untuk beberapa waktu ke depan ini…
ya.. ya..
Harus kuakui mungkin aku tak mau mendengar jawabannya karena bagiku hasilnya akan tetap sama karena toh menurut versiku memang hanya akan selalu seperti itu endingnya…
Aku hanya takut sesuatu yang tidak kami aku inginkan terjadi…
Bagaimana kalau aku berhenti berbicara bertanya padanya?
Bagaimana kalau aku berhenti mempertanyakan pertanyaan yang menurutku penting dan akan menentukan arah kami selanjutnya?
Kami memang berbeda…
Yah harus kuakui hal itu memang benar adanya..
Kalau dia memilih untuk menghindar dan pura-pura tidak tahu, aku justru memilih untuk membahasnya berulang-ulang agar semuanya jelas, lagi-lagi menurut versiku….
Kenapa dia selalu memilih untuk menghindar mencari jalur aman, Tuhan??
Tidakkah dia pernah berpikir kalau aku pun ingin lari dari semuanya ini ketika aku sudah merasa benar-benar sampai di titik dimana aku merasa kalau dunia kami memang berbeda dan tidak ada lagi yang bisa menyatukan kami, bahkan ketika aku tidak pernah yakin kalau apa yang ada diantara kami berdua memang sungguh-sungguh nyata dan bukan sekedar ilusi belaka?
Tidakkah dia pernah berpikir kalau aku pun mungkin takkan pernah mau kembali lagi saat aku telah memutuskan pergi?
Tidakkah dia memahami kalau berbagai pemikiran masuk ke dalam benakku saat aku mendengar kalimat-kalimat sederhana yang bahkan mungkin dikeluarkannya tanpa melalui proses terlebih dahulu di dalam otaknya?
Aku lelah Tuhan…
Aku lelah harus berperang dengan diriku sendiri yang egois hingga aku yang tak pernah mau mengalah pada orang lain harus mau mengalah dan selalu mengalah, hingga aku yang selalu ingin membuat perang dunia karena masalah sepele menjadi hanya terdiam dan menyimpan semuanya di dalam hatiku sampai hatiku menjerit karena luka yang ditimbulkannya…
Aku juga tahu dia lelah karena dia harus menjadi dirinya yang lain saat bersamaku…
Dirinya yang banyak mengalah padaku…
Tapi Tuhan……….
Tidakkah ia menyadari kalau aku telah berhenti untuk meraih tangannya saat ia berulang kali melepaskan tanganku begitu saja?
Tidakkah ia menyadari kalau aku kerap kali hanya memandang kosong ke arahnya?
Tidakkah ia menyadari kalau aku tidak pernah mau terlihat bersamanya saat ia tengah berada di tengah teman-temannya?
Tidakkah ia menyadari kalau aku tengah menahan diriku sendiri untuk mengucapkan kata-kata yang mungkin akan membuat semuanya menjadi “aneh” sebagaimana semuanya ini dimulai ketika dia bertanya-tanya padaku mengenai sikapku yang menurutnya aneh…
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan…
Tidak dengan ketidak tahu-an dirinya sendiri…..
Tidak dengan keraguanku untuk mempertanyakan hal itu padanya..
Tidak dengan tiap ucapannya yang selalu terkesan menghindari semuanya…
Kenapa untuk mendapatkan sebuah ilmu, harus begitu banyak pengorbanan yang kukeluarkan, Tuhan?
Akhirnya, kalau memang semuanya benar seperti yang dikatakannya pada teman-temannya…..
biarlah semuanya itu berakhir seperti itu……
Rupanya memang bintang dan manusia itu tidak sama…..
we’ll see then….




HIMTI e-Forum





