Kubiarkan ponselku terus berdering sementara diriku tengah sibuk mengamati makanan yang telah kupesan namun tidak kusentuh sama sekali.
Itu tunanganku.
Dan aku yakin kalau dia tengah bermaksud untuk meminta penjelasan atas aku yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar, tapi aku tak berniat untuk menjelaskannya sedikitpun. Aku yakin penjelasanku kalau aku melarikan diri dari dia untuk mencari orang yang selama ini selalu ada di hati dan pikiranku akan sangat-sangat melukainya. Dan aku tak ingin melakukannya.
Aku tak ingin melukainya lebih dalam lagi.
Aku memang tak yakin kalau dia sudah mengerti kalau aku memerlukan waktu untuk sendirian dan memikirkan kembali semua tentang hubungan dan kebersamaan kami, tapi aku yakin dia pasti akan mengerti. Karena memang hanya dialah yang bisa mengerti dan memahamiku walau tetap saja ada satu bagian yang bahkan aku sendiri pun takkan pernah bisa memahaminya dengan baik.
Aku hanya tidak ingin terus menerus melukainya dengan semua kebohongan-kebohongan dan kepalsuan-kepalsuan itu karena kebohonganku padanya mungkin sudah tak terhitung lagi banyaknya. Ironisnya dia selalu mempercayaiku seratus persen hingga detik ini, yah setidaknya begitulah menurutku.
Dia laki-laki yang sangat baik dan aku akan sangat merasa bersalah jika akhirnya dia harus menikah denganku yang dicintainya tapi tidak mencintainya sedikitpun.
Aku bukannya tidak berusaha untuk belajar mencintainya, namun aku tak bisa melakukannya. Tidak selama bayang-bayang laki-laki yang pernah mengisi hariku itu masih menghantuiku. Aku tahu aku mungkin sangat bodoh karena selalu gagal mengusir bayang-bayangnya dari hatiku, tapi aku memang tidak bisa melakukannya. Setiap kenangan yang pernah hadir diantara kami ikut menghantuiku dan selalu membuatku tak bisa melupakannya.
Aku mungkin memang membencinya tapi aku juga sangat-sangat mencintainya dan selalu merindukannya.
Ya.
Aku selalu merindukan bintangku.
Deringan ponselku berhenti. Tampaknya dia sudah lelah mencoba menghubungiku.
Syukurlah.
Dengan perlahan aku menoleh ke arah ponselku yang kembali berbunyi menandakan sebuah pesan singkat masuk ke dalamnya. Aku pun mengulurkan tanganku dan meraih ponsel yang tergeletak tepat di samping kananku itu untuk mengetahui siapa yang barusan mengirimiku pesan singkat itu.
Tunanganku lagi.
Dari kata-kata yang dikirimkannya padaku itu, aku dapat membaca betapa dia mencemaskanku dan berharap aku akan menghubunginya sesegera mungkin. Dia bahkan lebih mencemaskanku daripada kedua orang tuaku sendiri.
Aku hanya sempat berpamitan singkat pada mereka dengan mengatakan kalau aku ada sedikit urusan dan akan pergi beberapa hari. Mereka bahkan tidak bertanya kemana aku akan pergi, dengan siapa aku akan pergi, dan kapan aku akan kembali.
“Maaf, non.” Aku tersentak pelan saat ada seseorang yang memanggilku perlahan.
Rupanya itu waiter yang hanya ingin mengatakan kalau restoran itu akan segera ditutup.
Aku pun mengangguk perlahan pada pria muda itu kemudian meninggalkan makananku yang masih tidak tersentuh.
Aku memang masih belum tahu berapa lama aku akan ada di Jakarta, tapi entah kenapa firasatku mengatakan kalau aku akan berada cukup lama di kota ini.
Aku pun membuka pintu restoran itu kemudian keluar dengan cukup kerepotan karena ternyata barang bawaanku benar-benar banyak tepat ketika tampaknya seseorang baru saja hendak masuk ke tempat itu dengan tergesa-gesa dan menabrakku hingga semua kantung-kantung belanjaanku itu jatuh berserakan ke atas lantai.
“Maaf.” Laki-laki itu menunduk sambil mulai membantuku mengumpulkan semua kantung-kantung belanjaanku kembali.
“Maafkan aku,” ujarnya lagi kemudian mendongak dan melihat ke arahku.
“Andri?”
Aku tak bisa mempercayai penglihatan mataku saat ini dan aku yakin kalau jantungku sempat berhenti beberapa detik sebelum akhirnya berdetak lagi dengan sangat kencang.
Aku melihatnya berdiri tepat di depanku dengan gaya berpakaian yang sudah jauh berbeda dengan yang terakhir kali kulihat meski ternyata dia masih saja memanggilku dengan sebutan itu.
“Kamu sungguh-sungguh Andriany kan?”
“Iya,” ujarku perlahan kemudian tersenyum. “Gue emang Andriany.”
“Wah,” ujarnya setengah terkejut setengah senang. “Ga nyangka kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama. Tapi kamu masih mengingatku kan?”
Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku akan selalu mengingatmu karena kamu bahkan tak pernah pergi dari hatiku sedetikpun sejak saat itu.
“Tentu aja gue inget sama lu, Bang.”
Ya.
Namaku Andriany.
Sebuah nama pemberian dari kedua orang tuaku sejak pertama kali aku hadir ke dunia ini. Sebuah nama yang lazimnya digunakan sebagai nama belakang, namun aku justru menyandangnya sebagai nama depan sekaligus namaku satu-satunya. Sebuah nama yang membuatku merasakan sebuah ketidak-sesuaian dan ketidak-laziman gender saat ada orang asing atau orang-orang yang sengaja memanggilku dengan sebutan seperti itu. Orang-orang seperti laki-laki yang tengah berdiri di hadapanku sekarang ini.
Herlambang.
Nama yang selama ini selalu kurindukan. Nama yang ternyata masih terukir abadi di dalam hatiku.
Bintangku.
“Wah ga nyangka ya kita bisa ketemu disini,” ujarnya dengan senyuman yang sama. Senyuman yang terasa menyihirku dengan kekuatan magis.
“Iya,” ujarku pelan.
“Kemana aja kamu selama ini?” tanyanya lagi.
Aku hanya bisa terdiam. Lidahku terlalu kelu untuk berbicara karena terus terang saja aku masih tidak bisa mempercayai kalau aku bisa bertemu dengannya lagi di sini.
Di Jakarta.
“Masih betah di Jakarta?” tanyaku sambil mengamatinya dengan seksama.
“Iya,” ujarnya sambil tersenyum. “Jakarta sudah menjadi rumahku karena aku telah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan disini.”
“Oh,” ujarku pelan.
“Kamu sendiri gimana?” tanyanya penasaran.
“Gue dapet kerjaan di luar kota,” ujarku. “Tapi gue baru iya-in pas kita kelar wisudanya biar lebih gampang.”
“Oh,” ujarnya. “Dimana?”
“Surabaya.”
Oh, Tuhan…
Apa maksud-Mu mempertemukan kami lagi setelah sekian lama?
“Trus untuk apa kamu sekarang ada di sini?” tanyanya lagi. “Urusan bisnis?”
Tentu saja untuk bertemu lagi denganmu.
Dan ternyata kamu sudah banyak berubah. Aku bahkan tidak bisa mengenalimu lagi. Mungkin keputusanku untuk menghilang selamanya dari hidupmu adalah keputusan yang benar, bintangku. Mungkin tak seharusnya aku mencarimu lagi agar kita selamanya tidak perlu bertemu lagi.
“Iya,” ujarku berbohong padanya. “Dan gue cuma sebentar kok disini.”
Kuhembuskan napasku perlahan sambil berdoa kalau ucapanku yang terakhir benar adanya.
“Oh,” ujarnya lagi.
Pembicaraan kami terhenti karena tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia pun meminta ijin untuk menjawab panggilan itu di tempat yang agak jauh dan sepi. Aku hanya mengangguk pelan.
“Sepertinya aku harus kembali sekarang,” ujarnya saat ia kembali menghampiriku. “Ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”
“Oh ya udah,” ujarku pelan. “Gue juga kayanya mau balik sekarang.”
“Kamu mau ke mana?” tanyanya. “Mau diantar?”
“Katanya lu ada kerjaan.”
“Iya,” ujarnya. “Tapi kan ngaret sedikit ga apa-apa.”
“Dasar,” ujarku. “Gue mau balik ke hotel.”
“Ya udah ayo ikut saja,” ujarnya kemudian tersenyum. “Lagian belanjaannya banyak banget tuh. Eh tapi ga ada yang menunggu untuk menjemputmu kan?”
“Ada,” ujarku sambil tersenyum nakal. “Sopir taksi tuh uda bederet nungguin gue.”
Ia tertawa lagi.
“Ayo,” ujarnya. “Kita ke tempat parkir aja biar gampang.”
Ia membantuku membawakan belanjaan-belanjaanku masuk ke dalam sedan hitamnya kemudian kami berdua pun menyadari kalau ternyata di luar sana hujan tengah turun dengan derasnya.
“Wah kebiasaan,” ujarnya. “Selalu hujan saat aku hendak mengantarkanmu pulang.”
“Kebetulan doang kali,” ujarku sambil menutup pintu mobil dan memasang sabuk pengaman. “Ngomong-ngomong motor lu kemana?”
“Ada di kos.”
“Masi ngekos?” tanyaku heran.
“Iya,” ujarnya. “Rasa-rasanya tempat itu sudah menjadi rumah bagiku. “
Kupandangi tetesan hujan yang turun membasahi kaca mobilnya saat ia mulai mengemudikan sedan hitamnya keluar dari gedung itu dengan perlahan.
Hujan.
Tetesan air yang turun membasahi bumi itu akan selalu membuatku teringat padanya. Teringat betapa bahagianya aku saat berada sangat-sangat dekat dengannya. Saat aku ada di pelukannya. Saat ia mengecup keningku dengan mesra ketika aku memeluknya dengan manja.
Hujan tampaknya menjadi saksi bisu bagaimana namanya secara perlahan terukir di dalam hatiku. Banyak moment indah yang akhirnya menjadi kenangan-kenangan manis di dalam hidupku yang kulewati bersamanya diantara tetesan hujan yang seolah ingin menebarkan suasana magis dan romantis diantara kami.
Oh Tuhan, ternyata duniaku memang jauh lebih indah karena kehadirannya. Ternyata dia masih ada di dalam hati dan pikiranku, mungkin akan selalu ada….
Tapi…
Bagaimana dengan tunanganku?
Mungkin aku juga takkan sanggup melihat tatapan matanya yang penuh luka kalau saja kukatakan padanya aku ingin mengakhiri semuanya….
Kupejamkan mataku, berharap aku bisa mengetahui apa yang harus kulakukan saat kebimbangan ini melanda diriku. Di satu sisi, aku tentu saja tak bisa begitu saja membuat tunanganku terluka karena aku jelas-jelas tahu betapa dia sangat-sangat mencintaiku. Namun di sisi lain aku tak bisa memungkiri kalau ternyata nama itu masih terukir di dalam hatiku…
Hati yang masih meneriakkan satu kalimat yang sama…
ilumistar…………




HIMTI e-Forum






Anoo…
Ditunggu lanjutannya
Ada nama yang sungguh sangat familiar..
Ahahahah