Di luar masih Hujan.
Dan aku masih disini, mengamati sekaligus menikmati dari kejauhan derasnya hujan yang membasahi sekelilingku seolah ia tidak ingin melewatkan satu sudutpun di muka bumi ini.
Hatiku pun masih bergolak tiap kali aku mendengar tetesan airnya yang turun membasahi bumi, membuat suasana terasa lebih dingin sekaligus melankolis.
Hujan pun masih membuatku merasakan hal yang sama, Dilema besar yang menggerogoti pikiranku.
Demikian pula, hujan pun mengingatkanku akan dua hal, Cintaku pada bintangku yang harusnya sudah usai dan komitmenku pada tunanganku yang harusnya selalu kujaga dengan sepenuh hatiku.
Hujan.
Aku masih dapat mengingat dengan sangat jelas betapa aku telah menghabiskan banyak waktuku bersama bintangku di bawah derasnya hujan. Aku ingat pelukan hangat yang selalu kudapatkan tiap kali aku mendekatkan tubuhku padanya seolah dia paham betul kalau aku merasa kedinginan dan ingin dipeluk olehnya. Aku tentunya juga takkan melupakan aroma tubuhnya yang tercium olehku tiap kali aku meletakkan kepalaku di atas dadanya yang bidang. Aroma tubuh yang selalu menentramkan jiwaku.
Tapi aku pun takkan pernah lupa bagaimana tunanganku memintaku untuk menikah dengannya di kala hujan turun dengan derasnya dan petir menyambar-nyambar di kejauhan sana. Aku tentu saja takkan pernah melupakan tatapan mata penuh cinta dari tunanganku ketika ia dengan sungguh-sungguh mengatakan kalau ia ingin menikah denganku dan membangun keluarganya bersamaku.
Oh Tuhan, kenapa semuanya itu membuat kepalaku serasa ingin pecah? Terlebih lagi, kenapa semuanya itu harus menyerangku di saat-saat seperti ini—Di saat aku ingin memberikan waktu pada diriku sendiri untuk berpikir langkah apa yang sebaiknya aku tempuh di kemudian hari.
Dan rupanya hujan itu pun menyihirku karena tanpa sadar rupanya aku tertidur dengan lelapnya.
“Andriany.”
Aku merasakan nafas seseorang berhembus di dekat wajahku dan aku juga merasa kalau aku mengenali suara itu bahkan dari alam bawah sadarku. Aku pun membuka kedua mataku yang entah sejak kapan tertutup rapat. Dan aku pun menyadari kalau rupanya aku tertidur sejenak tadi.
“Ya ampun,” ujarku pelan sambil berusaha menyadarkan otakku yang tampaknya masih belum sepenuhnya terjaga. “Maaf yah gue ampe ketiduran di mobil lu.”
“Ga apa-apa kok,” ujarnya. “Keliatannya kamu sangat lelah, jadi kubiarkan kamu tidur sebentar.”
“Udah lama nyampenya?” tanyaku saat menyadari kalau kami telah berada di depan hotel tempatku menginap.
“Barusan,” ujarnya pelan. “Dan harusnya aku membiarkanmu tertidur lebih lama di sini.”
“Ya uda deh,” ujarku sambil melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya. “Thanks banget yah uda nganterin gue.”
“Sama-sama,” ujarnya kemudian tersenyum padaku.
“Ya udah,” ujarku lagi. “Sana pergi ntar telat loh.”
“Oke,” ujarnya kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya. “Kapan-kapan boleh kan aku berkunjung ke tempatmu menginap?”
“Iya,” ujarku pelan. “Ati-ati yah.”
Aku pun bergegas masuk ke dalam bangunan yang memiliki lebih dari sepuluh lantai itu sambil berharap kalau ucapannya barusan tidak sungguh-sungguh. Meski ternyata ada satu bagian dari dalam diriku yang sungguh berharap kalau ucapannya barusan itu adalah bukan hanya sekadar ucapan belaka. Sepertinya belakangan ini diriku terbagi menjadi dua bagian yang saling bertolak-belakang. Dan puncaknya adalah aku yang kini melarikan diri dari semua masalahku itu.
Aku hanya tak ingin menyakiti siapapun, bahkan termasuk diriku sendiri. Mungkin itu yang membuat diriku seolah terbagi menjadi dua bagian seperti itu, bahkan aku pun tak tahu apa yang bisa membuat diriku menjadi satu pribadi yang utuh lagi.
Entahlah…
Mungkin akan lebih baik jika aku segera angkat kaki dari kota penuh kenangan ini. Jauh sebelum dia melakukan apa yang dikatakannya padaku barusan.
Mengunjungiku.
Dan tentunya hal itu akan membuatku mungkin saja takkan pernah bisa melepaskannya lagi.
Oh Tuhan, tolong bantu aku untuk keluar dari semuanya ini. Jangan biarkan aku membuat salah satu dari mereka berdua terluka…




HIMTI e-Forum





