Deringan ponsel memaksaku untuk membuka mataku yang terasa berat karena kelelahan yang teramat sangat. Dan untuk sejenak aku merasa kebingungan akan keberadaanku sekarang.
Ah iya, rupanya aku sudah kembali ke rumahku di Surabaya. Aku sudah hapal betul dengan suasana kamarku.
Ya. Aku kembali bersama Radith semalam.
Aku memang ikut pulang bersamanya, tapi bukan karena aku telah memutuskan untuk memilih bersama dia selamanya dan membuang jauh-jauh bintangku dari pikiranku.
Aku kembali karena dia membawa kabar tentang ayahku yang rupanya telah tiada.
Mimpi buruk itu akhirnya pun menjumpaiku di persimpangan jalanku. Mimpi buruk itu mengacaukan pikiranku dan membuatku tak bisa memikirkan hal lain kecuali membangunkan diriku sendiri dari mimpi yang sebetulnya bukanlah sekedar mimpi belaka.
Dengan mata setengah terbuka, dan sembab kepala yang berdenyut-denyut keras, dan otak yang masih belum sepenuhnya sadar, aku pun terheran-heran karena aku tidak mengetahui siapa yang membangunkanku dari tidur lelapku barusan. Sebuah nomor yang belum ada di dalam phone book ponselku.
Aku menunggu beberapa saat, berharap deringan itu akan berhenti. Tapi rupanya orang yang meneleponku ini ngotot ingin berbicara denganku. Oke, Rasa penasaranku menang kali ini!
Kuraih ponselku yang masih berdering, kemudian aku pun menjawabnya dengan ragu-ragu.
“Halo?”
“Kurasa kamu harus menghentikan kebiasaanmu yang suka hilang tanpa kabar secara mendadak.”
Aku yakin jantungku berhenti berdetak saat mendengar suara itu.
Tidak. Aku yakin itu tidak mungkin dia.
“Herlambang?” tanyaku ragu-ragu saat jantungku telah kembali berdetak. Kali ini aku yakin orang-orang dapat mendengar suara detakannya.
“Iya,” ujarnya.
“Aku memang Herlambang, Andri.”
Kupejamkan mataku, berharap kalau semuanya ini hanyalah sebuah mimpi. Yah, walau ada satu bagian dari diriku yang berharap kalau aku takkan pernah terjaga dari mimpi ini.
“Gimana caranya lu bisa tau nomor ini?” tanyaku pelan seolah seluruh tenagaku untuk menanyakan pertanyaan itu telah lenyap.
“Tentu saja aku tahu,” ujarnya.
Dari nada bicaranya, aku tahu dia tengah tersenyum. “Kurasa kamu sudah lupa kalau tak ada hal yang bisa lolos dari pengetahuanku.”
Aku tersenyum getir.
Tentu saja ada hal yang bisa lolos dari pengetahuannya. Dan hal itu berkaitan dengan apa yang selama ini terjadi padaku selama aku berusaha untuk membangun hidupku di bawah naungan bayang-bayangnya. Tapi, mungkin saja baginya hal itu bukanlah hal yang penting.
“Bang,” ujarku pelan. “Bisa ga gue minta sesuatu?”
“Apa?”
“Gue mohon jangan pake aku-kamu lagi buat ngomong sama gue,” ujarku sambil menekan dahiku yang terasa semakin berdenyut-denyut.
“Gue risih ngedengernya.”
“Bisa minta sesuatu juga?” tanyanya setengah memohon.
“Apa?”
“Coba liat keluar jendela sebentar.”
Dan aku yakin kalau jantungku berhenti berdetak saat aku melihat apa yang ada di luar jendelaku.
Bintangku.
Dia berdiri dengan senyumannya yang khas kemudian melambai ke arahku. Dan aku pun segera berlari ke luar untuk menemuinya tanpa pikir panjang lagi. Aku berlari tanpa menyadari kalau Radith tengah duduk di ruang tamu sambil mengamatiku berlari keluar. Aku pun tak menyadari ketika ia kemudian mengikutiku keluar tanpa suara.




HIMTI e-Forum






menunggu kelanjutannya
=D
Kalo cerita ini kubuat pdf-nya boleh?
Ending bagian ini rada konyol. Ahahaha.
Cepat sekali lanjutannya. Jadi deg2an. XD
@Reina Lunarrune:
buat pdfnya buat apaan?
wah jadi malu ditungguin lanjutan ceritanya…
@a2121:
lagi lancar tuh.. melankolis abis gara2 ujan soalnya..
tp skarang saya bingung
Andriany, gimana nih kelanjutan ceritanya??
wew…
Btw, dari sini ke yang selanjutnya kepisah ya?
@a2121:
hmmmm…. emang ada bagian yg terlupakan
tp g lagi nyusun cerita secara lengkapnya c…
trus ada 1 cwo lage dtg
eaaaaaa…… kacao…..
keduanya pun masuk dan seperti ada perang bintang diantara mata mereka eaaaaaa……
ahaha, buat koleksi aja
kalo gamau juga gapapa, gaakan kulakuin ^^