Harus kuakui, untuk menulis ini dibutuhkan waktu dan privasi yang cukup panjang, dan kuharap ini akan menjadi cerita yang cukup menghibur..
Cerita ini adalah cerita tentang perjalananku dan juga teman-teman satu kantorku yang tergabung dalam satu perusahaan yang kami semua kenal dengan AMI atau yang kata kang asep surasep menjadi Anak Malang Indonesia ato Asep Malang Ihhh
Cerita diawali sejak beberapa bulan sebelumnya, ketika berhembus angin yang mengabarkan kalau kami sekantor hendak pergi ke Pulau Dewata atau yang lebih dikenal dengan Bali!
Waktu terus berlalu, hingga akhirnya rencana itu benar-benar terlaksana yang ditandai dengan bersarangnya sebuah email di dalam inbox kami semua mengenai rincian jadwal acara selama 3 hari 2 malam itu..
Perjalanan kami memang dimulai sejak hari Jumat, tapi aku dan beberapa orang temanku yang lain sudah memulainya sejak hari Kamis karena kami akhirnya memutuskan untuk menginap terlebih dahulu di tempat salah satu teman kami yang lainnya dan buatku itu memastikan kalau aku tidak akan terlambat sampai di bandara karena sudah bisa dipastikan kalau aku tidak bisa ikutan seperti yang lainnya (baca: saingan bangun terus berangkat sama tukang sayur, tukang ikan, tukang sapu jalanan, tukang jual makanan yang beroperasi nyaris 24 jam)
Well, aku perlu seseorang yang membangunkanku di pagi buta.
Setelah melakukan packing yang lumayan ribet dan menggunakan semua kemampuan lipat melipat dan selip-menyelip yang mungkin bisa dikatakan cukup lumayan, aku berhasil memasukkan semua barang-barang keperluanku ke dalam sebuah tas tangan yang lumayan besar dengan ditambah satu tas lainnya yang lebih kecil dan semuanya itu aku bawa menuju kantorku menggunakan kendaraanku yang biasa (baca: 213)
dan well—aku cukup merasa surprise karena aku sanggup membawanya melewati sejumlah desakan dan kerumunan orang di dalamnya.
Sesuai rencana, aku dan beberapa temanku yang menginap—bersama dengan sang pemilik rumah tentunya akhirnya memulai petualangan singkat kami untuk berbelanja sedikit makanan untuk dimakan keesokan paginya di dalam sebuah mobil yang memutarkan lagu-lagu yang lumayan lah—lumayan jadul maksudnya sebelum akhirnya memutuskan untuk beristirahat dan bersiap-siap untuk keesokan paginya.
Well, buatku keesokan paginya benar-benar membuatku malas bergerak. Aku jelas masih mengantuk dan tidak mau berpindah tempat, tapi tetap saja kami semua tiba tepat pada waktunya dan bergabung dengan beberapa orang lain yang juga sudah menunggu di termial 2F sekitar pukul setengah 4 pagi.
Perjalanan sekitar satu jam lewatku di pesawat Merpati berlangsung cukup menyenangkan karena di sekelilingku dipenuhi dengan orang-orang yang kebetulan juga cerewet dan mungkin saja kami terus berbicara sebelum akhirnya pesawat itu mendarat di bandara Ngurah Rai, Bali..
Setelah menunggu beberapa menit, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke hotel yang terletak tidak jauh dari situ dengan menggunakan bis yang merupakan bagian dari tur kami disana—well seems like tour..
daaaannn.. kami harus menunggu berjam-jam sebelum akhirnya bisa menempati kamar kami masing-masing (setelah workshop yang lumayan membuat kita ber-daydreaming karena listrik yang naik turun)
Hari pertama tidak terlalu terasa karena waktu tampaknya berputar lebih cepat dan kami semua lebih fokus kepada keinginan untuk menyelam di dalam air dingin karena cuaca yang lumayan terik dan bikin gerah daripada yang lainnya.
..kemudian hari kedua pun tiba dan kami semua harus mengawalinya saat morning call kami tiba sekitar pukul setengah 1—tapi buat kamerku morning call pertama tiba sekitar pukul setengah 12
Sesuai rencana kami pun melakukan pemanjatan terhadap gunung Batur di sekitar daerah Kintamani—kalo ga salah inget dan itu berarti kami benar-benar memanjat.
Yes, we’re using our hand also to climb that mountain!
dan ga tau kenapa itu membuatku teringat akan saat-saat dimana aku mengalami yang namanya jurit malam atau kemping bareng pramuka waktu SMA, dan juga HILET bareng HIMTI..
Bedanya adalah jumlah kami sekarang lebih sedikit—of course..
Perjalanan menuju puncak gunung Batur membuatku sempat berpikir untuk menyewa jasa helikopter atau sejenisnya karena kayanya itu puncak kaga keliatan-keliatan dan walaupun pada akhirnya keliatan, tetep aja kakinya udah ga mau diajak berkoordinasi dan berkooperasi hingga akhirnya aku membutuhkan bantuan dari guide nya untuk menyeretku naik ke atas!
Well—menurutku diseret lebih baik daripada di dorong dari belakang!
I hate when you’re pushing me, FYI~
tapiiiiiiii… akhirnya aku nyampe loh keatas!!
*bangga* *pingsan*
view sunrise-nya bener-bener bagus tapi kayanya agak kurang worthed kalau harus dinikmati setelah melakukan pemanjatan sekitar 2 jam lewat belum lagi ditambah dengan kenyatan kalau kami harus kembali turun ke bawah
Dan aku milih cara yang lebih santai untuk turun (baca: meluncur bebas sesekali)
Well, kalau di sekelilingku ga ada orang mungkin aku dengan senang hati melakukannya sampai bawah, tapi ternyata ada orang-orang yang bersedia membantuku untuk turun.
Aku yakin orang-orang yang membantuku untuk turun sama lelahnya denganku, mungkin lebih lelah karena itu aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada pihak-pihak yang telah membantuku selama pemanjatan gunung itu.
Terimakasih banyak telah menggandengku, menyeretku, dan memaksaku untuk bergerak—sometimes i need that in other case also
Thanks to Ade, Sutan, Winnie, and Hannie
ah, and also the guide!
Maybe i will decide to stay at that mountain if you’re not helping me~~
Well, seperti yang sudah bisa diduga, kami pun mengalami sindrom pasca pemanjatan (baca: pegel linu) yang sekarang untungnya sudah nyaris tidak terasa lagi.
Karena itu perjalanan kami ke Ulu Watu untuk menyaksikan sodara-sodara jauh sekaligus pertunjukan Rama-Sinta terasa melelahkan.
Yes, we’re missing our bed so much at that time~
Tapi kita tetep berangkat buat ngeliat sunset-nya.. dan ternyata sunset-ku terhalang oleh sebuah tiang
Well, akhirnya tiba juga kita-kita semua di hari ketiga dimana kami harus bersiap-siap mengucapkan selamat berjumpa kembali pada Pulau Dewata yang benar-benar harus akan kukunjungi lagi dalam waktu dekat..
Karena itu, aku dan beberapa orang temanku pergi ke sebuah tempat yang dikenal dengan nama Ku De Ta yang menyediakan view super buat pantai di Bali!
Seiring dengan terbenamnya matahari, maka perjalanan kami disini pun bisa dikatakan berakhir dan perjalanan kami yang lainnya dimulai….
See you again in my other journey stories~~




HIMTI e-Forum









hahahahahaha gw jadi mengenang saat2 gunung batur *yang dibayar juga ogah gw kesana lagi*
ya udah kita ke bali nya lagi aja.. ga usa ke gunungnya.. pasti asik tuh.. yukkkk!!