Long Journey to Find The Brightest Star

And I Found it nearly at the end of October… ^0^v

Ibuku pernah menasihatiku seperti ini.

“Nak, jika suatu hari nanti kamu harus memilih diantara dua cinta, pilihlah seseorang yang mencintaimu bukan seseorang yang kaucintai karena orang yang kaucintai hanya akan membuatmu meneteskan air mata, sementara orang yang mencintaimu akan selalu membuatmu bahagia. Karena pada dasarnya cinta bisa tumbuh seiring dengan berjalannya sang waktu.”

Dulu aku tidak pernah mendengarkan nasihat ibuku dan selalu memilih orang yang kucintai dengan sepenuh hati.

Bintangku.

Seorang lelaki yang sangat kucintai tapi akhirnya menyakitiku dengan begitu dalam. Seorang laki-laki yang mencintai perempuan lain walau ia selalu menyangkalnya hampir tiap waktu.

Tapi akhirnya aku pun menyerah kalah dan mulai mengikuti nasihat dari ibuku.

Kini, aku telah hidup tanpa dirinya selama hampir tiga tahun lamanya.

Kalau dulu aku adalah seorang perempuan yang jatuh cinta setengah mati pada bintangnya, sekarang aku adalah seorang perempuan yang takut untuk merasakan cinta itu lagi setelah semua yang telah terjadi.

Kalau dulu aku adalah seorang perempuan yang memuja cintanya, sekarang aku tak lebih dari sekadar perempuan yang berusaha hidup dengan bahagia tanpa sebuah kata yang bernama cinta lagi walau kini telah ada seseorang yang jelas-jelas telah mengikatku dengan cincin pertunangannya.

Kupandangi cincin pertunangan kami yang melingkar di jari manisku. Aku yakin dia sangat mencintaku walau ia jarang mengucapkan kata-kata cinta itu kepadaku, tapi aku tak yakin kalau aku mencintainya sedikitpun.

Ironis bukan?

Ia selalu memperhatikanku, mencintaku, berada di sisiku setiap saat, mengabulkan tiap-tiap permintaanku seperti seorang peri dari negeri dongeng, dan selalu memperlakukanku bagai seorang ratu, namun sikapku padanya mungkin tak lebih dari sekadar aku memperhatikan sahabatku. Dan parahnya aku masih selalu merindukan bintangku walau kini sudah ada seseorang yang harusnya bisa menghangatkan duniaku dengan caranya sendiri yang jelas-jelas berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh bintangku.

Dan kini aku kelabakan saat ia mengatakan kalau ia ingin segera menikah denganku agar ia bisa memiliku sebagai istri yang dicintainya. Read the rest of this entry »

“Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku ingin memintamu kembali padaku?”

Aku tersenyum getir dan perlahan mengamati dia yang berdiri di hadapanku dengan nafas memburu.

Sungguhkah dia pria yang kukenal selama ini?

Seorang pria yang hidupnya hanya mengikuti arus saja tapi sekarang justru seolah menantang ombak yang dahsyat?

Tak pernah terlintas sedikitpun di dalam benakku kalau ia akan berani melakukan hal senekat ini.

Ya. Dia menghalangi kepergianku tepat setelah aku memutuskan untuk menghilang selamanya dari hidupnya, tentu saja karena aku sangat-sangat yakin kalau ia akan jauh lebih bahagia bersama dengan perempuan itu.

”Bagaimana kalau kukatakan bahwa ternyata aku mencintai dirimu yang mencintainya?”

Read the rest of this entry »

Harusnya aku tersenyum bahagia saat namaku disebutkan diantara ribuan orang yang hadir di acara wisuda kami semua saat ini. Harusnya aku merasa puas karena akhirnya perjuanganku selama tiga setengah tahun berakhir dengan hasil yang benar-benar membuat kedua orang tuaku bangga karena toh akhirnya aku berhasil masuk diantara jajaran orang-orang yang mendapat hasil cumlaude di acara wisuda kami saat ini. Harusnya aku tersenyum bahagia karena kami berdua berhasil berdiri bersama-sama diatas panggung ini untuk menerima penghargaan di acara wisuda kami semua saat ini. Harusnya aku tersenyum bahagia karena akhirnya kami berdua bisa meraih mimpi kami, lulus dengan nilai cumlaude. Tapi nyatanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya bahkan berteriak sekeras-kerasnya saat ia menyalami tanganku dengan erat sambil memandangiku dengan tatapan mata terluka.

Ya. Kami berdua sudah tentu tahu kalau mungkin ini adalah saat terakhir dimana kami bisa saling bertemu dan berada sedekat ini.

Aku benci akan adanya perpisahan walau kata orang harus ada perpisahan jika ingin ada sebuah pertemuan yang lain lagi.

“Selamat yah,” ujarnya kemudian mencoba tersenyum.

“Sama-sama.” Aku tersenyum padanya. Memaksakan diriku mengeluarkan sebuah senyuman termanis yang bisa kulakukan di tengah suasana hatiku yang terasa hancur berantakan.

Read the rest of this entry »

“Semuanya sudah berakhir.” Kalimat itu kuucapkan pada diriku sendiri berulang kali.

“Dan harusnya aku merasa sangat-sangat lega karena telah terbebas dari sebuah ikatan yang membuatku kehilangan diriku sendiri di dalamnya.” Sengaja kutambahkan kalimat itu saat ada suatu sensasi nyeri bercampur perih di dadaku seolah seseorang telah menorehkan pisau di dalam sana.

Kuhembuskan napasku berkali-kali, mencoba untuk menghilangkan rasa sesak yang kini terasa semakin memenuhi rongga dadaku, tapi hasilnya nihil. Rasa sesak itu makin menjadi dan entah kenapa aku merasa sangat-sangat rapuh hingga akhirnya air mataku pun menetes tanpa sepengetahuan ego di dalam diriku. Egoku tentu saja akan melarang hal itu, namun toh tetap saja air mata itu menetes dan justru semakin deras mengalir saat rasa perih di dadaku itu semakin menjadi.

Read the rest of this entry »

Aku selalu merasa tidak bahagia. Aku selalu merasa ada yang kurang dari semuanya ini meski aku tak tahu apa yang kurang dan apa yang membuatku tidak bahagia..

Dan kali ini, saat aku melihatnya termenung di kejauhan sana, aku sadar kalau mungkin seharusnya aku melepaskan tangannya dan berpaling. Setidaknya mungkin ia akan jauh lebih bahagia tanpaku di kehidupannya.

Ya.

Kami bertengkar lagi kemarin karena sebuah masalah yang katanya hanya prasangkaku saja. Kami bertengkar lagi karena sebuah masalah yang katanya kini hanya menjadi bagian dari masa lalunya. Kami bertengkar lagi karena kemarin aku mengatakan apa yang sungguh terlintas di pikiranku saat melihat mereka berbincang bersama. Kami bertengkar lagi karena aku mengatakan kalau dia terlihat sangat bahagia di dekat perempuan itu.

Ia membentakku dengan keras kemarin dan bentakkannya itu seolah menjadi tamparan keras bagiku yang mungkin tampak sangat manja dan kekanak-kanakkan di depannya.

Aku tahu ia menyesal telah melakukan hal itu padaku karena ia tiada hentinya mencoba menghubungiku yang justru seolah ingin menghilang selamanya dari kehidupannya. Aku tak mengangkat teleponnya, tak menghiraukan kehadirannya yang memohonku untuk mendengarkan permintaan maafnya, dan entah kenapa aku menjadi orang tolol yang menangis semalaman hanya karena hal sepele seperti itu.

Read the rest of this entry »